GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA "BUKIT HERMON" BALIKPAPAN, "MEMPERSIAPKAN JEMAAT YANG DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI"
banner ads
banner ads
banner ads
Anda Memiliki Beban/ pergumulan
ataupun pertanyaan2 Dan Rindu untuk didoakan. Tuliskan beban dan pergumulan anda dan dengan sukacita kami akan mendoakannya

Klik disini untuk menuliskannya

Kepemimpinan Yang Melayani

“Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian diantaranu kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka diantaramu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:25-28).

Dalam ayat-ayat ini, Tuhan Yesus sedang membicarakan tentang aspek yang penting berkenaan dengan masalah kepemimpinan.
Hal ini muncul karena suatu keinginan dari murid-muridNya untuk berkuasa.
Dua orang muridNya yakni Yakobus dan Yohanes memutuskan untuk berusaha meminta kedudukan yang paling tinggi dalam kerajaan Allah. Apakah reaksi dari murid-murid yang lain? Mereka marah kepada dua orang tersebut. Mengapa
mereka marah? Karena pada dasarnya mereka juga menginginkan kedudukan tersebut. Bahkan dalam bagian yang lain, murid-murid pernah bertanya kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, siapakah yang terbesar dalam kerajaan Allah?’ Tuhan Yesus memberikan jawaban yang tidak disangka-sangka oleh mereka, Ia berkata bahwa jika mereka mau menjadi pemimpin, mereka harus melayani.
Peristiwa di atas memberikan bukti kepada kita, bahwa sejak zaman dahulu pusat kepemimpinan selalu ada pada kekuasaan. Bahkan sepanjang sejarah umat manusia kekuasaan selalu merupakan harta paling dicari dan dihargai. Bahkan orang karena ambisinya untuk berkuasa telah menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Contohnya, dalam setiap peperangan yang terjadi, berapa pun kecil atau besarnya, telah merupakan suatu akibat dari kehausan kita yang tak terpadamkan untuk memperoleh kekuasaan.
Pola kepemimpinan seperti ini adalah pola kepemimpinan otoritatif atau gaya memerintah. Kepemimpinan otoritatif selalu bertumpu pada kuasa liniar. Orientasinya adalah status dan bawahan atau pemberi perintah dan penerima perintah. Pemimpin dengan gaya kepemimpinan seperti ini menganggap organisasi sebagai milikinya sendiri. Ia selalu bertindak sebagai diktator terhadap semua anggotanya dan menganggap mereka sebagai bawahan dan merupakan sebagai alat, bukan manusia. 
Memang gaya kepemimpinan seperti ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya adalah: pertama, atasan cenderung memerintah dengan keras sesuai dengan statusnya. Jikalau mapan, ia tidak membuka diri untuk dinasihati karena merasa bahwa ia tidak perlu dinasihati dan tidak mudah membiarkan bawahan melebihi dirinya karena dia tidak mau disaingi. Kedua, reaktif bawahan berbantah-bantah, bahkan ada yang marah dan pindah pekerjaan, sebaliknya, bawahan adaptif memilih tindakan pasif, bahkan ada yang munafik.
Kekuatan kepemimpinan otoratif adalah: Pertama, atasan memimpin dengan tegas karena kewenangan atau haknya menuntut sikap ini. Konsekwensinya, pelayanan organisatoris terpelihara menurut lingkup dan urutannya. Kedua, bawahan melakukan tugas, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban sesuai dengan statusnya. Karena itu, prinsip penghormatan kepada pemimpin terpelihara dengan baik.
Mengapah banyak orang jatuh ke dalam perangkap sikap kepemimpinan yang otoriter ini? Hanz Finsel mengatakan setidaknya ada lima hal:
1.        Sudah tradisi. Secara historis, kepemimpinan yang otokratis, yang memerintah, telah menjadi metode yang paling umum diprakterkan.
2.        Paling umum. Sekalipun telah banyak ditulis tentang bentuk-bentuk kepemimpinan lainnya, kepemimpinan yang memerintah tetap yang paling umum.
3.        Paling mudah. Adalah jauh lebih mudah untuk sekedar memberitahu orang apa yang harus mereka perbuat ketimbang mencoba gaya-gaya kepemimpinan lain yang jauh lebih efektif.
4.        Alami. Karena alasan tertentu, diri yang alami memilih sikap dominan terhadap yang lain, dan berusaha memupuk kekuasaan yang dapat diberlakukan atas orang lain. Tampaknya sifat kepemimpinan artinya adalah “diatas” yang lain.
5.        Mencerminkan kejatuhan manusia. Iblis memulai masalahnya ketika ia ingin keluar dari bawah kuasa Allah Bapa. Maka ia memberontak dan memimpin pemberontak-pemberontak yang menjadi pengikutnya untuk membawa pemberontakan di dunia.1

Walaupun kepemimpinan ini memiliki kelebihan, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan dan menganjurkan para murid-muridNya untuk memimpin dengan gaya seperti ini. Tuhan Yesus menunjukkan gaya kepemimpinan yang baru yakni, kepemimpinan yang melayani.
Tuhan Yesus tidak hanya menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa dalam dunia sekuler, kekuasaan digunakan untuk memungkinkan pemimpin itu dilayani oleh para pengikut dan mengendalikan mereka, bahkan pemimpin berhak menggunakan kekuasaan dari jabatan mereka untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Tetapi Ia juga menegaskan bahwa dalam organisasi rohani para pemimpin tidak boleh bertindak seperti itu.
Ditahun-tahun belakangan ini banyak dibicarakan tentang gaya kepemimpinan baru yang menentang kepemimpinan yang memerintah, yang otokratis. Diantaranya kepemimpian yang demokratis atau model kepemimpinan yang lebih suka saya sebut kepemimpinan yang melayani. Kepemimpinan yang melayani merangkul semua model baru dan dibangun atas model kepemimpinan Kristus.
Robert K. Greenleaf dalam bukunya Servant leadership mendefinisikan keseluruhan proses kepemimpinan yang melayani sebagai berikut:
“Telah muncul suatu prinsip moral baru yang menyatakan bahwa satu-satunya kewenangan yang layak dijunjung adalah yang secara bebas dan sadar diberikan oleh yang dipimpin kepada yang memimpin sebagai respon terhadap, dan sebanding dengan sikap, sikap sang pemimpin yang jelas-jelas melayani. Mereka yang memilih prinsip ini takkan begitu saja menerima kewenangan institusi-institusi yang ada. Mereka akan dengan bebas memberikan respons hanya kepada individu-individu yang terpilih sebagai pemimpin karena terbukti dan dipercayai bersikap melayani”.2

Ada banyak contoh di mana Tuhan Yesus sebagai pemimpin tapi menunjukkan sikap kehambaanNya, antara lain pada waktu perjamuan makan malam terakhir. Tuhan Yesus memberikan contoh kepemimpinan dengan membasuh kaki murid-muridNya. Termasuk Yudas Iskariot yang sebentar lagi akan mengkhianatiNya.
Tuhan Yesus tahu betul posisi Dia dan Dia tidak perlu memamerkannya. Dia tahu panggilanNya dan Ia bersedia untuk setia terhadap panggilanNya. Ia tahu masa depanNya dan bersedia untuk tunduk kepadanya. Tuhan Yesus tidak perlu membuktikan apapun, tidak takut kehilangan apapun dan tidak perlu menyembunyikan apapun.
 Sebelum perjamuan makan malam terakhir, pada waktu mereka masuk ke dalam ruangan tersebut, murid-murid Tuhan Yesus melihat ada suatu baskom air dan handuk untuk membasuh kaki. Menarik sekali, karena tidak ada satu pun dari antara muridNya yang berpikir untuk membasuh kaki sesamanya. Alasannya kenapa mereka tidak mau mengambil baskom air itu dan membasuh kaki sesamanya, karena mereka merasa lebih baik dari salah satu di antara mereka. Mereka berpikir bahwa yang paling kecil diantara merekalah yang seharusnya membasuh kaki yang lain. Dengan kata lain, dalam pikiran mereka pasti ada seorang yang lebih rendah yang berada bersama-sama dengan mereka saat itu.
Tuhan Yesus mengejutkan murid-muridNya pada saat itu ketika Ia mengambil baskom dan hendak membasuh kaki murid-muridNya. Bahkan Petrus memprotes agar supaya Tuhan tidak membasuh kakinya. Kalau kita perhatikan, sebenarnya Petrus bukan tidak mau dibasuh kakinya, tetapi dia ingin yang membasuh kakinya adalah orang yang lebih rendah daripadanya.
Mengenai sikap Tuhan Yesus ini, Hanz Finsel mengatakan, bahwa “Yesus memperlihatkan kepemimpinan yang melayani dengan menanggalkan jubahNya, mengambil sebuah handuk, dan membasuh kaki murid-muridNya. Seandainya saya hadir di sana malam itu, saya pasti akan malu setengah mati ketika melihatNya mengambil handuk serta mulai membasuh kaki muridNya yang pertama. Saya pasti akan merasa malu dan rendah karena saya tak bersedia merendahkan diri sendiri demi tugas kotor membasuh kaki itu. Namun Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa Dia yang terbesar diantara para pengikutNya, malah bersedia melayani semuanya”.3

Seorang pemimpin yang tidak mau melayani, biasanya karena mempunyai pendapat yang keliru mengenai hal ini. Menurut mereka, jika mereka melayani bawahan, maka mereka akan dianggap lemah dan tak layak untuk tugas kepemimpinan. Pemikiran seperti ini sungguh jauh dari kebenaran. Pemimpin yang melayani merupakan pemimpin yang lebih berhasil guna dibandingkan dengan kepemimpinan dunia sekuler yang cenderung otoriter.
Myron Rush mengatakan, bahwa “jika Anda mau menjadi seorang pemimpin yang berhasil guna dengan mengikuti asas kepemimpinan Alkitab, serahkan diri Anda untuk melayani kebutuhan para pengikut Anda. Sebagai imbalannya para pengikut Anda akan melayani kebutuhan Anda senantiasa”.4
Pemimpin yang baik adalah mereka yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Orang-orang yang merasa tidak aman, mereka peka terhadap posisi. Pemimpin yang baik mau menambahkan nilai terhadap orang lain. Tetapi pemimpin-pemimpin yang tidak merasa aman menginginkan orang lain menambahkan nilai pada hidup mereka.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan adalah kehambaan, atau pemimpin yang mau melayani. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang pemimpin ia harus tahu bagaimana caranya melayani. Kesalahan besar yang dibuat pemimpin adalah ketika seorang pemimpin berusaha untuk dilayani orang lain, bukannya melayani.
Tidak sedikit orang yang menjadi pemimpin karena mereka bisa menerima sesuatu. Mereka menganggap, kalau mereka menjadi pemimpin pasti banyak orang yang akan melayaninya dan mengikutinya, dan mereka pasti akan melakukan banyak hal untuknya. Ini merupakan alasan dan motivasi yang salah untuk menjadi seorang pemimpin rohani.
Seorang pemimpin yang melayani haruslah bersedia “turun tangan” bersama pasukannya dalam melaksanakan tujuan-tujuannya”. Kepemimpinan yang melayani menuntut kita untuk duduk dan menangis dengan orang yang menangis di dalam organisasi kita”.5 
Salah satu alasan dan motivasi yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin adalah untuk menambahkan nilai kepada orang lain. Pemimpin yang mempunyai motivasi yang tidak benar akan memanipulasi manusia. Tetapi pemimpin dengan motivasi yang benar pasti memotivasi manusia. Pemimpin yang memanipulasi manusia adalah pemimpin yang mau menggerakkan orang lain untuk keuntungannya sendiri. Pemimpin dengan motivasi yang benar adalah memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu demi keuntungan bersama.
Seorang pemimpin pelayan menurut Myron Rush adalah:
Seseorang yang memenuhi kebutuhan dari orang yang dilayaninya. Bila harinya panas dan Anda merasa haus, lalu saya menawarkan sebuah jas untuk dikenakkan maka saya tidak melayani Anda karena saya tidak memenuhi kebutuhan Anda. Yang Anda butuhkan ialah minuman air yang sejuk yang menyegarkan dan bukannya jas. Saya menjadi seorang pelayan hanyalah ketika saya sedang memenuhi suatu kebutuhan. Para pemimpin pelayan memandang tugasnya sebagai orang yang memenuhi kebutuhan para pengikut”.6

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang peka dan mau memenuhi kebutuhan pengikutnya. Bukan sebaliknya pengikut melayani kebutuhan mereka.
Pada waktu seorang pemimpin hendak memimpin ia harus menjadi hamba bagi sesamanya. Pemimpin yang salah adalah pemimpin yang selalu mengurus diri sendiri atau kepentingan sendiri di atas kepentingan yang lain. Pada waktu seorang pemimpin membantu orang lain untuk berkemenangan, sukacita sang pemimpin itu jauh lebih besar karena dia yang membantu mereka berkemenangan. Dan pada waktu orang-orang mengalami kekalahan bersama-sama dengan seorang pemimpin, kesedihan sang pemimpin lebih besar daripada kesedihan yang lain.
Kepuasan pribadi seorang pemimpin bukan apa yang dicapainya secara pribadi, tetapi apa yang ia capai untuk dan bersama orang lain. Seorang pemimpin yang berada dipuncak dan kesepian, berarti tidak ada yang mengikutinya. Dan jika ia sendirian dan kesepian di puncak kepemimpinanNya, maka jalan      satu-satunya      yang      harus       dilakukan      atau kerjakannya adalah turun ke bawah mencari orang lain dan mengajaknya bersama-sama untuk naik kepuncak. Itulah yang dilakukan oleh seorang pemimpin sejati.
Banyak pemimpin-pemimpin saat ini yang berusaha menekan bawahannya supaya mereka berada di puncak sendirian. Ini merupakan pandangan yang salah. Pemimpin yang menekan bawahannya tidak sadar bahwa ketika mereka menekan bawahannya, mereka juga ikut berada di bawah. Tetapi ketika ia mengangkat orang bersama-samanya kepuncak, ia ada bersama-sama dengan mereka di puncak. Seorang pemimpin yang baik harus melayani orang lain, mengangkatnya bukan menjatuhkannya.
Sebagai orang percaya, kita seharusnya menolak dipimpin oleh orang-orang yang pada dasarnya bukan pelayan. Oleh sebab itu, Rintangan terbesar yang harus diubah dalam masyarakat adalah para pemimpin pelayan yang memiliki kemampuan untuk memimpin, namun tidak memimpin”.7
Dalam soal kepemimpinan yang melayani, tak ada model yang lebih baik ketimbang Yesus Kristus. Landasan kepemimpinanNya yang melayani sungguh merupakan realisasi kuasaNya, posisiNya, dan PrestasiNya. Ia adalah Allah sendiri dalam wujud manusia, dan sesungguhnya berhak untuk bersikap sebagai diktator. Malah Dialah satu-satunya manusia yang pernah berjalan dimuka bumi ini yang berhak untuk bersikap otoriter mutlak. Namun Tuhan Yesus tidak melakukan hal tersebut.
Penjelasan tentang kepemimpinanNya yang melayani diberikan pada akhir kisahNya, ketika Tuhan Yesus mengatakan:
“Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yohanes 13:15-17)

(Pdt. Ferdy Manggaribet, S.Th.MA)


Melihat kepemimpinan Kristus lainnya, yakni YESUS =Pemimpin Yang Memiliki Prioritas=  klik disini

Ditulis Oleh : ggp bukit hermon balikpapan ~ Ferdy Manggaribet, S.Th, MA

Jona Rendra Anda sedang membaca postingan saya yang berjudul Kepemimpinan Yang Melayani. Jika anda menyukai semua ARTIKEL kami, anda bisa COPAS dan menyebarluaskannya dengan disertakannya link yang sesuai dengan postingan tersebut sebagai sumbernya
Jangan Lupa Kritik dan Sarannya melalui KOTAK KOMENTAR dibawah ini ya!

:: ggp-bukithermon.blogspot.com ::

Anda ingin berlangganan RENUNGAN atau ARTIKEL kami?

Follow us!




Kekasih Tuhan !!!
Anda diberkati dengan Artikel dan renungan kami ?
Bagikan ke teman-teman Anda biar jadi berkat. GBU

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis

 

GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA "Bukit Hermon" BALIKPAPAN

Shalom!
Kekasih Tuhan
Jika Anda tidak memiliki tempat ibadah tetap,
Kami mengundang Anda untuk hadir
dalam setiap ibadah kami.
Kita adalah satu keluarga di dalam
Tuhan Yesus Kristus.
Selengkapnya tentang Kegiatan Ibadah

Ferdy Manggaribet, S.Th. MA

' width='73px'/>

Suatu sukacita bagi kami, Karena kehadiran Blog ini dapat diterima oleh semua anak-anak Tuhan.
Kerinduan dan harapan kami Blog ini bukan hanya di terima tetapi juga bisa menjadi berkat yang akan terus menguatkan, memotivasi, membimbing dan meneguhkan komitmen iman kita terhadap Tuhan.
Haleluya !!!!

Info